Berbagai budaya Jepang yang unik dan menarik menjadi daya tarik tersendiri bagi negara sakura ini. Yuk, ketahui beberapa budaya yang terkenal di negeri Sakura ini.
1. Geisha & Oiran
Geisha merupakan salah satu bagian dari budaya Jepang yang terkenal di dunia. Dengan kata lain, Geisha adalah aktivis seni penghibur tradisional di negara Jepang. Memang, awalnya pria lah yang memerankan Geisha ini, tetapi beberapa pria yang menekuni budaya tradisional ini cenderung menurun, hingga akhirnya para wanita yang segera menggantikan peran mereka.
Geisha juga memiliki penerus yang bernama Maiko. Sedangkan, Oiran adalah wanita penghibur yang mempunyai keahlian yang sama ataupun lebih dari Geisha, dan Oiran juga disebut sebagai wanita prostitusi elit pada zaman Edo. Penampilan Oiran lebih mencolok daripada Geisha.
2. Tako
Tako merupakan layang-layang khas Jepang yang diartikan sebagai budaya bernilai tinggi dan harus dilestarikan. Di negara Jepang, menerbangkan layang-layang menjadi salah satu kegiatan atau aktivitas favorit keluarga Jepang yang dilaksanakan tiap tahun baru.
Masyarakat Jepang tidak menganggap tako sebagai hobi atau permaianan saja. Namun, tako dianggapa sebagai budaya yang bernilai tinggi dan harus dilestarikan. Karena itu setiap tahunnya ada festival layang – layang terbesar seperti yang diadakan di Hamamatsu Festival di Shizuoka setiap bulan mei yang dikenal dengan nama Takoage-Gassen. Pelaksanaan festival ini dilakukan sebagai bentuk perayaan bayi yang baru lahir dikota tersebut dan berdoa bagi Kesehatan dan masa depan sang bayi tersebut. Kebiasaan ini dikenal dengan sebutan Hatsudako.
3. Kimono
Kimono adalah pakaian tradisional Jepang. Pada zaman sekarang, kimono berbentuk seperti huruf "T", mirip mantel berlengan panjang dan berkerah. Panjang kimono dibuat hingga ke pergelangan kaki. Wanita mengenakan kimono berbentuk baju terusan, sementara pria mengenakan kimono berbentuk setelan. Kerah bagian kanan harus berada di bawah kerah bagian kiri. Sabuk kain yang disebut obi dililitkan di bagian perut/pinggang, dan diikat di bagian punggung. Alas kaki sewaktu mengenakan kimono adalah zōri atau geta.
4. Hanabi
Hanabi adalah kata dalam bahasa Jepang yang berarti kembang api. Kata ini berasal dari kanji hana (花) yang berarti bunga dan hi (火) yang berarti api. Istilah ini menggambarkan keindahan kembang api yang seperti bunga mekar di langit malam.
Selain itu, Hanabi juga bisa merujuk pada festival kembang api di Jepang. Festival ini biasanya diadakan di sepanjang sungai pada musim panas. Masyarakat Jepang masih mempraktikkan pertunjukan Hanabi Taikai dalam Festival / Matsuri setiap tahunnya.
5. Sadou
Sadou terdiri dari dua huruf, yaitu yang berarti teh dan yang berarti jalan atau cara. Oleh karena itu, secara etimologi kata sadou dapat diartikan sebagai cara menyajikan dan menikmati teh. Pada umumnya, orang beranggapan bahwa upacara minum teh ini merupakan budaya asli Jepang.
Tujuan dari upacara minum teh Jepang adalah untuk menciptakan ikatan antara tuan rumah dan tamu serta memperoleh kedamaian batin. Upacara minum teh sangat penting dalam budaya Jepang karena dulunya hanya dipraktikkan oleh para biksu zen elit dan panglima perang yang mulia selama sebagian besar sejarah.
6. Hanami
Hanami adalah tradisi Jepang untuk menikmati keindahan bunga, khususnya bunga sakura, di musim semi. Tradisi ini dilakukan dengan piknik dan minum di bawah pohon sakura yang sedang bermekaran.
Hanami merupakan tradisi kuno yang berasal dari Jepang, dan diyakini sudah ada sejak lebih dari seribu tahun yang lalu. Sejarahnya, tradisi ini dimulai dengan pertemuan bangsawan untuk mengagumi bunga plum, yang kemudian beralih ke bunga sakura. Untuk menikmati hanami, Anda bisa mengunjungi Jepang pada musim semi. Saat melakukan hanami, pastikan Anda menjaga kebersihan dengan membawa kantong sampah sendiri dan membuang sampah di tempat yang tepat
7. Matsuri
Matsuri adalah festival budaya Jepang yang merupakan perayaan dan cara berkumpul bagi komunitas lokal. Matsuri memiliki berbagai tujuan, di antaranya: Ungkapan rasa syukur kepada alam dan dewa, Membina komunitas, Menikmati hidup, Perayaan tradisi yang berkaitan dengan peralihan musim, Mendoakan arwah dari para figur terkenal.
8. Origami
Origami menjadi salah satu kebudayaan yang diakui orang Jepang dalam agama kepercayaan Shinto. Pada zaman Heian (741-1191 Masehi) origami dipercaya telah digunakan sebagai penutup botol sake (arak) ketika upacara penyembahan di kalangan kaum biksu Shinto, wanita dan anak-anak.Kertas pada awalnya diperkenalkan pada masyarakat Jepang di masa pemerintahan kaisar wanita Suiko. Sejak saat itu, origami menjadi populer dan diwariskan secara turun-temurun. Pada zaman Heian (741-1191 Masehi), origami dipercaya telah digunakan sebagai penutup botol sake (arak) untuk upacara penyembahan agama Shinto.
Asal-usul origami diperkirakan berasal dari Cina, di mana kertas mulai diproduksi sekitar tahun 105 Masehi. Cara pembuatan kertas ini kemudian dibawa ke Spanyol oleh orang Arab dan ke Jepang pada tahun 610 Masehi oleh biksu Buddha Doncho (Dokyo). Origami awalnya digunakan untuk tujuan dekoratif dan seremonial. Pada zaman Heian (741-1191 Masehi), origami digunakan sebagai penutup botol sake (arak) dalam upacara penyembahan di kalangan kaum biksu Shinto. Pengaruh internet dan asosiasi origami di seluruh dunia telah menyebarkan ide-ide baru dalam origami.
9. Onsen
Onsen adalah pemandian air panas yang bersumber dari alam dan merupakan salah satu tujuan wisata populer di Jepang. Air onsen dipanaskan secara geotermal di bawah tanah dan naik ke permukaan. Onsen yang resmi harus memiliki suhu minimal 25° Celsius dan mengandung setidaknya satu dari 19 unsur kimia yang terdapat di air mata air panas.
Salah satu budaya di Jepang yang masih eksis dan masih bertahan sampai sekarang yaitu onsen. Secara umum, onsen merupakan kegiatan berendam di pemandian air panas. Onsen ini sudah melekat menjadi budaya serta gaya hidup masyarakat Jepang.
Sejarah Onsen, Menurut laporan kuno, pemandian air panas atau onsen sudah dilakukan oleh masyarakat sejak Zaman Houman Periode Nara pada tahun 713. Sumber air panas yang digunakan oleh para kaisar dan bangsawan pada masa itu dipercaya dapat menyembuhkan luka dan penyakit tertentu.
.jpeg)



.jpeg)




Comments
Post a Comment